Jumat, 14 Maret 2014
Ada Anak Bertanya Pada Ayahnya
Sabtu malam 15 Februari 2014 22.11
Zahra : Ayah, neneknya dah sembuh ?
Ayah : Udah baikan
Senin kayaknya boleh pulang
Soalnya besok gak ada dokter
Zahra : Di rumah sakitnya bayarnya mahal ya yah?
Ayah : Sedeng aja
Zahra : Ya Alhamdulillah kalau dah sembuh yah
Ayah : Iya, ini lg ngobrol ama nenek
Zahra : Kata mamah nenek hawatir banget
Ayah : Hawatir apa?
Zahra : Katanya livernya dan apalah sebagainya
Bilang aja ke nenek yg penting sembuh aja dulu
Ayah : Iya, udah seger
Zahra : Ayah kenapa promosinya ga di bogor aja ya yah ?
Ayah : Di Bogor udah penuh
Zahra : Yaaaa Tangerang
Ciawi
Depok
Ayah : Di Jawa udah penuh kali de
Zahra : Tapi kenapa ayah?
Ayah : Yang bagus ya ayah
Jadi ayah dinaikin jabatannya
Zahra : tapi harusnya kalau gajinya dinaikin 3 kali lipat harusnya
Ayah : Mungkin nanti de
Zahra : Soalnya buat biyaya kehidupan di sana buat pulangkan ongkosnya juga mahal
Ayah : Iya, katanya nanti mau dikasih ongkos pesawat de
Zahra : Kalau naiknya sedikit percuma nanti kaya gaji biasa tapi lebih repot
Ayah : Kita berdoa aja gajinya nanti dikasih banyak lagi
Zahra : Kalau kasih ongkos pesawat mau pulang pergi 1 minggu sekali ga papa masih mending
Iya yah
Ayah : Iyaaa
Zahra : Ayah maunya gajinya dilipatgandain berapa kali?
Kalau zahra sebanyak-banyaknya
Ayah : Sepuluh kaliiiii
Zahra : Banyak dong
Ayah : Iya dong
Zahra : Buat apa Yah
Ayah : Buat jajan zahra
Kan Zahra zazannya buanyaaaaaaakkkk :P
Iya ngga?
Zahra : Ooooh...makasih iya zahra juajannya buuanyak
Ayah : Tidur atuh
Mamah udah tidur?
Zahra : Mamah belum yah
Ayah : Salam ya buat mamah :)
Zahra : Iya yah, zahra minta maaf kalau zahra pernah salah pernah bohong atau lainnya ya yah
Zahra sayang ayah
Zahra tidur ya yah, zahra sayang ayah salam buat semua semoga besok ayah selamat
Ayah : Iya, jadi anak baik ya, jangan pernah bohong lagi, apalagi ama mamah
Zahra kan anak hebat :)
Zahra : iya yah makasih
Kamis, 21 November 2013
MACET MULU
Mengambil hak orang lain bukan hanya sekedar mengambil harta orang lain dengan tidak benar. Mengambil hak orang lain bisa terjadi dimana saja tanpa disadari.
Memotong jalur antrian, menempati tempat duduk orang yang berhak, bahkan mengambil badan jalan dari arah yang berlawanan.
Detik2 terakhir Rosulullah menjelang ajal
‘Pagi itu, Rasulullah
dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada
dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang
siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang
yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.”Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.”Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”
Rabu, 20 November 2013
KULIAH NENG...??
Di Polsek Bogor Selatan Sabtu pagi menjelang siang 16 November 2013
"Ada keperluan apa Bu..?"
"Mau bikin surat keterangan kehilangan Pak.."
"Ditunggu aja ya Bu, setelah Ibu satu ini"
Duduk menunggu...
Tiba-tiba..
"Yang hilang apa Neng..?"
"ATM bu."
"Kerja di Bank apa?"
"Bukan bu, saya kehilangan ATM."
"ATM Bank apa?"
"BNI Bu..".(duuuh ibu ini nanyanya detil amat siiiiy..)
"Udah kerja apa masih kuliah neng..?"
Wakwawwwww.....
"Kerja Bu.."
"Kerja dimana?, PNS ya?"
"Iya Bu." sambil ambil jalan ngedeketin TJ, si ibu ngelirik ga yakin..
"Si Ibu itu ngirain masih kuliah...hehehhe..masih pantes ya.."
"Iya ...kuliah S3..." :P
"Sirik deh..." :)
"Ada keperluan apa Bu..?"
"Mau bikin surat keterangan kehilangan Pak.."
"Ditunggu aja ya Bu, setelah Ibu satu ini"
Duduk menunggu...
Tiba-tiba..
"Yang hilang apa Neng..?"
"ATM bu."
"Kerja di Bank apa?"
"Bukan bu, saya kehilangan ATM."
"ATM Bank apa?"
"BNI Bu..".(duuuh ibu ini nanyanya detil amat siiiiy..)
"Udah kerja apa masih kuliah neng..?"
Wakwawwwww.....
"Kerja Bu.."
"Kerja dimana?, PNS ya?"
"Iya Bu." sambil ambil jalan ngedeketin TJ, si ibu ngelirik ga yakin..
"Si Ibu itu ngirain masih kuliah...hehehhe..masih pantes ya.."
"Iya ...kuliah S3..." :P
"Sirik deh..." :)
Kamis, 14 November 2013
KELUH
Manusiawi sebenarnya kalau kita mengeluh... tapi kenapa sih ga liat tempat dan waktu kalo ngeluh. Mungkin kalau dibilangin " jangan sering ngeluh dong"...jawabannya " ga ngeluh kok...cuma curhat doang....iseng doang..."
Kenapa ga nyari temen aja sih yang bisa dipercaya buat berbagi. Terserah deh nanti mau mengeluhkan atau mencurhatkan apa. Sebanyak mungkin dan sesering mungkin juga ga papa...sepanjang teman curhatnya ga keberatan.
Kenapa kita harus mengeluh dengan kondisi kesehatan kita di media sosial... sepanjang hidup diberi kesehatan lalu kemudian diberi cobaan kesehatan baru beberapa saat kita sudah mendramatisir keadaan dengan rasa sakit yang diderita, obat segambreng yang harus diminum, ngantri di dokter yang bikin beteh.
Mengapa harus mengeluh di facebook. twitter dan segala macam namanya karena kita terpisah dari keluarga..yang nyata-nyata padahal Tuhan memberikan pilihan kepada kita untuk berkumpul atau berpisah dengan mereka.
Kenapa kita hobi menguplod kesedihan, kesusahan yang kadangkala menjadikan sarana debat kusir bagi orang-orang yang akal dan pengetahuannya masih dangkal.
Kenapa kita tidak malu mengungkapkan/menulis kekecewaan terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi kepada banyak orang yang saya yakin tidak semuanya punya kepedulian dengan hidup kita. Bisa jadi ada yang memberikan kata-kata simpati walaupun basa basi, tapi tak sedikit juga yang mencibir apa yang kita sampaikan tidaklah penting bagi mereka.
Ada apa dengan kita manusia modern ini, apakah sudah demikian parahnya hubungan nyata kita dengan orang-orang sekitar kita sehingga kita tak punya cara dan jalan lagi untuk berbagi kata dan rasa kecuali lewat dunia maya...??
Ingatlah Sahabat...Allah tidak menyukai orang yang berkeluh kesah... bukan tidak boleh kita mengeluh...tapi cobalah bijak untuk menggunakan tempat dan sarana yang ada. jangan kita terjebak dan dimanfaatkan oleh kemajuan teknologi yang ada. Sehingga kita kadang lupa telah mengumbar aib dan rahasia diri dan keluarga kita, sedangkan Allah sudah demikan baiknya menutupi kesalahan-kesalahn kita. Lantas alasan apakah kita membukanya pada banyak orang yang tak patut tahu dengan kejadian apa yang menimpa kita.
Kenapa ga nyari temen aja sih yang bisa dipercaya buat berbagi. Terserah deh nanti mau mengeluhkan atau mencurhatkan apa. Sebanyak mungkin dan sesering mungkin juga ga papa...sepanjang teman curhatnya ga keberatan.
Kenapa kita harus mengeluh dengan kondisi kesehatan kita di media sosial... sepanjang hidup diberi kesehatan lalu kemudian diberi cobaan kesehatan baru beberapa saat kita sudah mendramatisir keadaan dengan rasa sakit yang diderita, obat segambreng yang harus diminum, ngantri di dokter yang bikin beteh.
Mengapa harus mengeluh di facebook. twitter dan segala macam namanya karena kita terpisah dari keluarga..yang nyata-nyata padahal Tuhan memberikan pilihan kepada kita untuk berkumpul atau berpisah dengan mereka.
Kenapa kita hobi menguplod kesedihan, kesusahan yang kadangkala menjadikan sarana debat kusir bagi orang-orang yang akal dan pengetahuannya masih dangkal.
Kenapa kita tidak malu mengungkapkan/menulis kekecewaan terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi kepada banyak orang yang saya yakin tidak semuanya punya kepedulian dengan hidup kita. Bisa jadi ada yang memberikan kata-kata simpati walaupun basa basi, tapi tak sedikit juga yang mencibir apa yang kita sampaikan tidaklah penting bagi mereka.
Ada apa dengan kita manusia modern ini, apakah sudah demikian parahnya hubungan nyata kita dengan orang-orang sekitar kita sehingga kita tak punya cara dan jalan lagi untuk berbagi kata dan rasa kecuali lewat dunia maya...??
Ingatlah Sahabat...Allah tidak menyukai orang yang berkeluh kesah... bukan tidak boleh kita mengeluh...tapi cobalah bijak untuk menggunakan tempat dan sarana yang ada. jangan kita terjebak dan dimanfaatkan oleh kemajuan teknologi yang ada. Sehingga kita kadang lupa telah mengumbar aib dan rahasia diri dan keluarga kita, sedangkan Allah sudah demikan baiknya menutupi kesalahan-kesalahn kita. Lantas alasan apakah kita membukanya pada banyak orang yang tak patut tahu dengan kejadian apa yang menimpa kita.
Senin, 04 November 2013
ZAHRA LAGI
Suatu sore sepulang kursus....
"Mama...Zahra udah tau nanti kalau udah jadi arsitek mau bikin gedungnya kaya apa..." /
"Kaya apa de..?" /
"Pokoknya Zahra udah tau, gambarnya udah ada di dalam fikiran Zahra, nanti Zahra mau bikin kaya gitu.."/
Sore lain sepulang kursus lagi..
"Kenapa sih Ma kok banyak orang nikah sekarang..? deket sekolah Zahra banyak banget janur tanda orang nikah.." /
"Sekarang masih bulan haji De, katanya bulan jahi itu waktu yang baik untuk nikah.." /
"Zahra juga nanti kalau nikah mau bulan haji ah..."/
"Zahra maunya suami yang kaya gimana..?"/
"Yang baik.."/
"Baik itu kaya gimana De?"/
"Kaya ayah..!"
"Mama...Zahra udah tau nanti kalau udah jadi arsitek mau bikin gedungnya kaya apa..." /
"Kaya apa de..?" /
"Pokoknya Zahra udah tau, gambarnya udah ada di dalam fikiran Zahra, nanti Zahra mau bikin kaya gitu.."/
Sore lain sepulang kursus lagi..
"Kenapa sih Ma kok banyak orang nikah sekarang..? deket sekolah Zahra banyak banget janur tanda orang nikah.." /
"Sekarang masih bulan haji De, katanya bulan jahi itu waktu yang baik untuk nikah.." /
"Zahra juga nanti kalau nikah mau bulan haji ah..."/
"Zahra maunya suami yang kaya gimana..?"/
"Yang baik.."/
"Baik itu kaya gimana De?"/
"Kaya ayah..!"
Langganan:
Postingan (Atom)