Kamis, 14 April 2016

RINDU

Mengapa aku tak pernah merindu kepada mereka...???
Mengapa aku tak pernah merasa harus berjumpa...???
Mengapa tak jadi soal kalau aku telah dilupa...???
Semuanya biasa saja....
Sungguh ....sangat...sangat teramat biasa.


Sementara....20 tahun...aku menghabiskan waktu di sana..
Teman dan sahabat silih berganti hadir...
Tapi yg aku rindu hanyalah seorang satu...
Dia yang setia menjadi teman, sahabat, dan pemimpin dalam rumahku...

Sungguh...untuk seorang yang satu ini..selalu ada rindu untuknya..
Tak terbayar kata untuk melukiskannya..
Rinduku yang tak pernah diabaikan..
Rindu yang selalu berbalas..
Membuat aku selalu merindu rindunya..


TAK RINDU

Hanya ingin menulis, itu saja...
Tak ada alasan yang lebih rumit untuk itu.
Tiba-tiba suatu rasa menari dalam hati, dan semakin diacuhkan, semakin dalam rasa itu terjatuh.

Tak banyak bertemu orang, tak banyak bertukar kabar, tak sering lagi makan siang sambil tertawa dengan kolega..ternyata tak membuat aku rindu untuk kembali ke sana.

Rumah ini....selalu membuat aku rindu untuk segera kembali.
Tak banyak yang aku kerjakan...tapi tak pernah membuat jemu untuk tetap di dalamnya.

Rumah ini...selalu membuat aku tak mau berlama lama meninggalkannya..
Tak pernah ada kata bosan, jenuh, dan bingung.

Bagaimalah nanti aku harus kembali ke masa yang tak pernah aku rindukan.

Aku tak pernah rindu mengutak atik komputerku..
Sama tak pernah rindunya bercengkrama dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Dan kerinduan itupun tak pernah ada untuk kembali menjadi bagiannya..
Lantas...bagaimakah aku bisa kembali...???
Sementara rindu itu tak pernah hadir di hati.

Rabu, 10 Juni 2015

NIKMAT

Duduk di ruang tunggu lantai 2 pajajaran 55 Bogor. Ditemani aneka minuman dan camilan. Mata menjelajahi jalan pajajaran yag tak sepi namun juga tak lengang. Ruangan sejuk tak bising namun pun tak senyap. Maka nikmat Tuhan manakah yang dapat aku dustakan..?

Kadang...nikmat itu terlalu sempit kita pahami. Adakah dia cuma sebatas rupiah yang tertera di rekening kita..? Atau bertambahnya aset yg dimiliki? Atau bertambah banyak dan luasnya rumah dan kebun kita..?

Di sini...di ruang tunggu lantai 2 Pajajaran 55 yang tak bising pun tak senyap...aku duduk ditemani secangkir milo panas dan sepiring kecil camilan. Sungguh nikmat yang tak semua orang bisa menerimanya sebagai nikmat. Lantas nikmat Tuhan manakah yang dapat aku dustakan..?

Selasa, 09 Juni 2015

TEMAN

Siang tadi terima telpon dari seorang teman lama, lamaa sekali. Teman 27 tahun lalu. Tidak terlalu surprise sebenarnya. Karena kemaren2 saling bertukar kabar dan cerita lewat telpon.
Tapi bertukar kabar lewat telepon itu sudah lama kami akhiri tanpa kesepakatan karena sesuatu yang bisa membawa pada fitnah.

Dan hari ini...sang teman menghubungi saya lagi. "Apa kabar?...sekarang sombong..atau cuma perasaan saya saja?"

Dan saya sungguh tertawa geli mendengarnya...persis kaya anak kecil yg lagi ngambek.

Ingin rasanya bilang "woii...kita nih dah tuir..ga usah pake perasaan2 deh..!"

Tapi yang keluar malah tawa lucu dan " kok sombong..? Sombong dari mana?..sayakan ga ke hongkong..kalo habis dari hongkong  baru tuh.. sombong.."

Setelah itu obrolan yang sempat terputus beberapa lama ini kembali mengalir. Karena, kami pada dasarnya adalah teman dekat dulunya. Yang setiap hari ngobrol dan bercanda di sekolah.

memang...saya ga pernah lagi calling2 dia. Ga pernah berusaha menghubunginya. Kalo dia telepon saya terima, kalo ga telepon ya bodo amat.

Diantara obrolan kami ini ada celah, celah yang nantinya bisa membawa fitnah. Dan untuk alasan itulah saya sekarang tak berusaha menjalin komunikasi dengannya.

Dan pada akhirnya setelah membicarakan hal2 yang kurang penting dan ga penting..sang temanpun mengucapkan selamat puasa dan kamipun saling meminta dan berbagi maaf.

Dan...maaf ya teman..sungguh bukan bermaksud sombong..tapi ...bagaimanapun kita tetaplah teman. Okey teman..:)

Maksud hati menghindari kata yg mungkin bisa merusak hati, apa daya..diam ternyata diartikan berbeda. Dulu...belum dulu banget sebenarnya. Jika marah, ada yg tidak berkenan di hati, aku mungkin akan langsung bilang. Tapi sekarang...setelah dingatkan beberapa  kali, ternyata masih begitu saja...diam adalah pilihan terbaik.
Tapi anehnya..diam ini malah membuat hatinya susah..
Apakah masih menjadi urusan sayakah?
Addow..p

Rabu, 25 Februari 2015

CUTI

Alhamdulillah...akhirnya cuti luar tanggungan negara dikabulkan, walaupun sampai saat ini, setelah jalan 2 bulan surat ijinnya blm diterima. Ada kesalahan penulisan pangkat katanya, sehingga perlu revisi.
Tidak banyak orang yg paham n bisa menerima keputusan sy utk cuti selama 2 th ini.
Kenapa...? Ngapain..? Mau apa..? Apa ga bosen di rumah..?
Pertanyaan yg sangat wajar, mengingat anak2 sdh tumbuh besar, dan tidak begitu membutuhkan perhatian lebih (pendapat sebagian orang).
Padahal..ketahuilah saudaraku..teman n sahabatku..anak2 kita senantiasa membutuhkan kita, kehadiran kita, perhatian kita full..tak peduli berapapun usia mereka.
Hampir setiap waktu saya menyesali diri..bahwa kenyataannya..selama ini sya hanya memberikan sisa2 buat mereka. Sisa waktu setelah lelah seharian berada di kantor. Sisa perhatian setelah energi terkuras menghadapi pekerjaan..dan sisa2  kesabaran menghadapi tingkah polah mereka.
Sungguh...mata saya selalu ingin menangis mengingat bahwa saya belum menjadi ibu yang bisa mereka banggakan..dan sungguh air mata selalu ingin tumpah setiap mengingat..bahwa semua ini akan berakhir seiring dengan bertambahnya usia mereka. Bahwa beberapa saat lagi mereka akan meninggalkan saya untuk masa depannya..suka atau tidak suka.
Saudaraku....tidak ada kata terlambat...hidup ini pilihan..sungguh..
Dan bila semua kita niatkan karena ibadah dan ingin mendekatkan diri pada Allah..yakinlah bahwa Dia akan melapangkan jalan itu buat kita.
Jangan pernah merasa hawatir dengan dunia ini...jangan merasa resah dengan cicilan mobil yg masih 4 th lagi..cicilan rumah yg masih 10 th lagi..atau biaya sekolah yang tidak murah lagi.
Allah mag

Bunda

Kali ke 2 dalam bulan ini berada di ruang tunggu Soetta. Meskipun beda gate, beda flight, beda jam..namun hakekatnya dan tujuannya sama. Aku pernah memohon agar Allah memudahkan jalanku untuk lebih dekat denganNya. Sungguh Dia Maha tahu akan segala sesuatu..dan MasyaAllah Dia memilihkan jalan yang teramat indah bagiku untuk lebih dekat denganNya.
Bunda....inilah jalan kita untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama. Dalam cobaanmu...aku bahagia bisa mendampingimu. Jangan kau risau Bunda...
Jangan kau sedih....
Aku...anakmu...
Akan selalu ada untukmu. InsyaAllah jalan akan terbuka untuk kebaikan kita.


Gate 7 terminal B 08.00