Suatu sore sepulang kursus....
"Mama...Zahra udah tau nanti kalau udah jadi arsitek mau bikin gedungnya kaya apa..." /
"Kaya apa de..?" /
"Pokoknya Zahra udah tau, gambarnya udah ada di dalam fikiran Zahra, nanti Zahra mau bikin kaya gitu.."/
Sore lain sepulang kursus lagi..
"Kenapa sih Ma kok banyak orang nikah sekarang..? deket sekolah Zahra banyak banget janur tanda orang nikah.." /
"Sekarang masih bulan haji De, katanya bulan jahi itu waktu yang baik untuk nikah.." /
"Zahra juga nanti kalau nikah mau bulan haji ah..."/
"Zahra maunya suami yang kaya gimana..?"/
"Yang baik.."/
"Baik itu kaya gimana De?"/
"Kaya ayah..!"
Senin, 04 November 2013
TUA KEJEMUR
Beberapa hari yang lalu saya ada tugas diluar kantor. Singkatnya namatugas itu Sensus Pajak. Dan seperti umumnya sensus, saya mendatangi rumah ke rumah untuk mendata dan menayakan beberapa hal berkaitan dengan pajak. .
Sampai akhirnya saya samapi pada satu rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri yang cukup berumur. Sepertinya pensiunan, dan sekarang mereka mempunya usaha produksi roti.
Walaupun saya diterima dan diijinkan masuk, namun jelas sekali sikap bermusuhan dan tidak suka dari mereka, terutama sang suami.
Pada saat saya menanyakan "Apakah Bapak sudah punya NPWP..?"/
"Ga punya..ngapain punya NPWP..uang pajaknya diambil sama Gayus..saya kenal semua orang pajak dan semua kaya Gayus. Kerjaannya ngambilin uang rakyat aja..!"
"Kita dah jijik sama pajak" istrinya menambahkan.
Tiba-tiba saya merasa sangat kasihan dengan mereka berdua. Entah kenapa saya ga merasa perlu marah atau kesal dengan mereka. Yang ada benar2 rasa kasihan dan sedih.
Kasihan karena di usia senja, ternyata tidak banyak orang yang bisa berfikir, bertindak dan berkata bijak.
Kasihan karena mereka sudah berbohong untuk sesuatu yang ga ada gunanya buat mereka. "Saya kenal dengan semua orang pajak". Ada 32.000 orang pegawai pajak. Apakah Bapak benar2 kenal dengan mereka..?
Saya sedih dengan fitnah mereka :"Semua orang pajak seperti Gayus, kerjaannya ngambilin uang rakyat."
Dalam usia senja seperti mereka, kenapa harus berburuk sangka dan menuduh orang tanpa dasar tidak menjadikan mereka malu...?? Memfitnah semua orang pajak mengambil uang rakyat.
"Kita jijik dengan pajak"...betapa buruknya kalimat yang diucapkan oleh seorang yang mestinya jadi panutan, dihadapan saya yang mereka sama sekali ga kenal dan mereka tidak tau sedikitpun tentang saya.
Saya sungguh sedih, karena orang tua yang mestinya jadi panutan saya telah membuat saya sangat kecewa dan patah hati....
Kalau menurut versi "sahabat" saya TJ dia punya istilah untuk orang-orang tua yang seperti itu "Tua Kejemur"
Sampai akhirnya saya samapi pada satu rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri yang cukup berumur. Sepertinya pensiunan, dan sekarang mereka mempunya usaha produksi roti.
Walaupun saya diterima dan diijinkan masuk, namun jelas sekali sikap bermusuhan dan tidak suka dari mereka, terutama sang suami.
Pada saat saya menanyakan "Apakah Bapak sudah punya NPWP..?"/
"Ga punya..ngapain punya NPWP..uang pajaknya diambil sama Gayus..saya kenal semua orang pajak dan semua kaya Gayus. Kerjaannya ngambilin uang rakyat aja..!"
"Kita dah jijik sama pajak" istrinya menambahkan.
Tiba-tiba saya merasa sangat kasihan dengan mereka berdua. Entah kenapa saya ga merasa perlu marah atau kesal dengan mereka. Yang ada benar2 rasa kasihan dan sedih.
Kasihan karena di usia senja, ternyata tidak banyak orang yang bisa berfikir, bertindak dan berkata bijak.
Kasihan karena mereka sudah berbohong untuk sesuatu yang ga ada gunanya buat mereka. "Saya kenal dengan semua orang pajak". Ada 32.000 orang pegawai pajak. Apakah Bapak benar2 kenal dengan mereka..?
Saya sedih dengan fitnah mereka :"Semua orang pajak seperti Gayus, kerjaannya ngambilin uang rakyat."
Dalam usia senja seperti mereka, kenapa harus berburuk sangka dan menuduh orang tanpa dasar tidak menjadikan mereka malu...?? Memfitnah semua orang pajak mengambil uang rakyat.
"Kita jijik dengan pajak"...betapa buruknya kalimat yang diucapkan oleh seorang yang mestinya jadi panutan, dihadapan saya yang mereka sama sekali ga kenal dan mereka tidak tau sedikitpun tentang saya.
Saya sungguh sedih, karena orang tua yang mestinya jadi panutan saya telah membuat saya sangat kecewa dan patah hati....
Kalau menurut versi "sahabat" saya TJ dia punya istilah untuk orang-orang tua yang seperti itu "Tua Kejemur"
Jumat, 01 November 2013
ZAHRA
Lebaran Haji kemarin di Cirebon...
"Mama, zahra cuma nanya ya..ini seandainya loh..moga-2 ga kejadian. Kalau misalnya ayah dipindah kerja jauh ke luar kota..trus mama masih suka tinggal di Bogor, Mama ikut ayah atau tetep tinggal di Bogor Ma?"
"Mama tanya ayah dulu de.. kalau kata ayah mama di Bogor aja karena zahra sama kakak2 sekolah, mama tetep di Bogor, tapi kalau disuruh ikut ayah mama akan ikut."
Kenapa de?"
"Soalnya Zahra pernah baca buku "Rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat" katanya salah satunya istri yang ga nurut sama suami.."
"Mama, zahra cuma nanya ya..ini seandainya loh..moga-2 ga kejadian. Kalau misalnya ayah dipindah kerja jauh ke luar kota..trus mama masih suka tinggal di Bogor, Mama ikut ayah atau tetep tinggal di Bogor Ma?"
"Mama tanya ayah dulu de.. kalau kata ayah mama di Bogor aja karena zahra sama kakak2 sekolah, mama tetep di Bogor, tapi kalau disuruh ikut ayah mama akan ikut."
Kenapa de?"
"Soalnya Zahra pernah baca buku "Rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat" katanya salah satunya istri yang ga nurut sama suami.."
Rabu, 30 Oktober 2013
ITULAH GUNANYA
Pernah satu ketika...duluu..waktu saya baru saja pindah rumah ke tempat yang sekarang. Saya ada keperluan ke luar rumah setelah beberapa saat dan lumayan jauh meninggalkan rumah , tiba2 saya teringat..kompor tadi masih nyala ga yaaaa....????? huaaa.... padahal di rumah ga ada orang sama sekali.
Waduh ...gimana nih... mau balik dah cukup jauh , ga balik kok perasaan ga tenang amat ya...
Kalau masih tinggal di komplek yang lama sih saya ga begitu hawatir, tinggal telpon "Bu...minta tolong liatin ke rumah dong, kayanya saya lupa matiin kompor deh.." aman deh pokoknya.
Nah di sini saya walaupun ga baru2 amat, tapi lingkungan dan cara bertetangganya sangat beda. Walaupun sebelah2an, depan2an..belum tentu bisa ketemu sebulan sekali. Paling lihat atau denger suara mobil, atau ngeliat dari jauh aja.
Saya buka2 kontak di HP nyari nomor tetangga depan rumah, walaupun ga terlalu deket, tapi asisten rumahnya lumayan sering ngobrol ma saya. Saya telepon ke rumahnya dan berharap yang terima asistenya, jadi saya enak kalo minta tolong (maksud hati), tapi ternyata yang terima yang punya rumah, suaminya pula...kacau deh. Jadilah setengah malu karena teledor, setengah malu lagi karena minta tolong sama tetangga yg baru dikenal.
Setelah beberapa saat saya dapat kabar via sms istrinya, ngasih tau kalau asistennya dah ngecek ke rumah, dan ga ada tanda2 kompor nyala.
Alhamdulilllaaaaah.... lega deh...
dan saya bales smsnya " Terima kasih banyak Bu Rika, Mohon maaf dah ngerepotin ibu"
dan dibalas " Itulah gunanya tetangga Bu"
Yaaa...itulah gunanya tetangga, gunanya teman, gunanya saudara, gunanya keluarga..
Saling menjaga, saling membantu, saling mengingatkan, saling berbagi entah itu benda atau cerita...dan bisa diandalkan.
Beruntunglah kamu yang punya tetangga, teman, saudara dan keluarga yang bisa diandalkan untuk berbagi itu semua.
Dan beruntung jugalah orang2 yang menjadikan kamu sebagai tetangga, teman, saudara dan keluarga yang bisa diandalkan.
Jumat, 25 Oktober 2013
Mama Papa Larang
Mama Papa Larang...(by Judika)
Judul lagunya agak2 kocak, tapi ternyata isinya.... dalemmm..
Judul lagunya agak2 kocak, tapi ternyata isinya.... dalemmm..
Separuh nafasku ku hembuskan untuk cintaku
Biar rinduku sampai kepada bidadariku
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Karena kamu bintang di hatiku
Takkan ada yang lain mampu goyahkan rasa cintaku padamu
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Sudah jangan kau usik lagi
Cinta yang tertanam di hati akan ku bawa sampai mati
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarangWalau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu oooh
Biar rinduku sampai kepada bidadariku
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Karena kamu bintang di hatiku
Takkan ada yang lain mampu goyahkan rasa cintaku padamu
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Sudah jangan kau usik lagi
Cinta yang tertanam di hati akan ku bawa sampai mati
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarangWalau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu oooh
JAUH
Kamu...ya..kamu yang tadinya selalu bersamaku..berbagi cerita konyol dan ga jelas. Dan sekarang kamu sengaja menghindar, menjauh, dan berpaling dari persahabatn kita. Walaupun aku ga bisa paham dan mengerti mengapa..
yach...sudahlah.
Setiap orang bebas memilih sikapnya dengan orang lain, terlepas itu menyakiti atau tidak.
It's okay...
Semuanya baik-baik saja. Tak mengapa kawan. Tak perlu merasa wajib untuk menyapaku bila hatimu menolak. Tak perlu berbasa basi sobat. Karena teman dan sahabat adalah masalah hati. Tanpa hati...kita mungkin hanya sebatas kenalan.
Tak perlu juga ucapan "Sayonara" dan sejenisnya. Hatimu sudah sangat jauh, dan aku cukup lelah mencoba kembali menggapainya. Hanya membuatmu semakin jauh pergi berlari. Dan samar aku melihat tampak punggungmu pergi meninggalkan semua yang pernah membuat kita tertawa bersama.
Cocoknya sih begini gambarnya..tampak punggung..hehehe..
Langganan:
Postingan (Atom)